Kata Dokter Kandungan Soal Punya Anak Sebaiknya 2-3 Orang Saja

JawaPos.com – Untuk membangun keluarga yang sehat dan sejahtera, salah satunya bisa dimulai dari perencanaan kehamilan. Pemerintah gencar menggerakkan program Keluarga Berencana (KB) untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk, meningkatkan kesejahteraan, dan mencegah kemiskinan.

Dalam mengukur pertumbuhan penduduk, pemerintah menggunakan angka acuan yaitu Total Angka Fertilitas atau Total Fertility Rate (TFR). Pencapaian tahun 2015-2019, TFR dari 2,6 menjadi 2,28 anak per wanita. Kemudian angka penggunaan kontrasepsi (contraceptive prevalence rate/CPR) naik dari 61,9 persen menjadi 66,0 persen. Kebutuhan kontrasepsi yang tidak terlayani (unmet need) dari 11,4 persen menjadi 9,91 persen.

TFR 2,1 penting untuk mencapai rasio ketergantungan kurang dari 50 persen. Sehingga Indonesia dapat memperoleh bonus demografi pada tahun 2020-2035.

“Angka TFR 2,1-2,2 itu maksudnya jadi seorang perempuan baiknya punya anak 2 saja, atau maksimal 3 anak di usia produktif,” jelas Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Dr. dr. Andon Hestiantoro, SpOG(K) dalam seminar bersama PT Bayer, baru-baru ini.

Sehingga saat mencapai bonus demografi, Indonesia memiliki penduduk usia produktif yang cukup banyak. Itulah sebabnya, kata dr. Andon, penting untuk mengendalikan kehamilan.

“Jumlah anak pasangan usia produktif paling baik adalah 2 anak di usia 21 tahun sampai 35 tahun. Tak boleh lagi ada orang kesulitan dapatkan kontrasepsi,” katanya.

Dia menjelaskan bahkan di negara maju banyak masyarakat yang enggan memiliki anak. Sehingga angka TFR hanya 1. Rata-rata di negara maju hanya memiliki anak 1 orang.

“Di negara maju malah angkanya 1. Banyak yang tak mau punya anak. Namun itu pun enggak bagus karena penting menjaga keseimbangan. Antara penduduk produktif dan penduduk kurang produktif,” jelas dr. Andon.

Namun demikian, kata dia, meskipun TFR telah mengalami penurunan dan proyeksi pencapaian angka kelahiran rata-rata di tahun 2020 adalah 2,1 namun perlu diingat tujuan dari pengendalian kelahiran adalah untuk mencapai keseimbangan antara jumlah usia produktif dengan usia lanjut. Oleh karena itu, dukungan semua pihak sangat penting, termasuk dukungan pemerintah tentang kebijakan subsidi alat kontrasepsi dalam program BPJS.

“Di samping itu, kita juga mendukung peran dan partisipasi swasta dalam membantu perempuan meraih kehidupan yang berkualitas dan sejahtera,” jelasnya.

(ika/JPC)

Kenali Kelainan Jantung Bawaan, Terutama Sejak Anak Lahir

JawaPos.com – Banyak orang tua tidak mengerti gejala Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak. Padahal, penyakit ini muncul sejak anak masih dalam kandungan. Akibatnya mengganggu kemampuan jantung untuk memompa darah dan penyaluran oksigen ke seluruh tubuh.

Wakil Sekretaris Jendral 1 Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) yang kini didapuk sebagai Wakil Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bidang Medis, dr. BRM. Ario Soeryo Kuncoro, SpJP(K), FIHA, FAsCC menjelaskan fakta bahwa banyak kasus kelainan jantung bawaan yang tidak terdeteksi sejak dini dan tertangani dengan baik dari awal. Banyak faktor yang mendasari
hal ini diantaranya kurang pahamnya masyarakat untuk mengenali gejalanya.

“Dan tercatat masih banyaknya jumlah anak-anak yang terlahir dengan kelainan jantung bawaan,” katanya baru-baru ini.

hari jantung sedunia, penyakit jantung, cegah penyakit jantung, kelainan jantung,Wakil Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bidang Medis, dr. BRM. Ario Soeryo Kuncoro, SpJP(K), FIHA, FAsCC saat berbicara tentang Hari Jantung Sedunia. (YJI)

Dalam menyambut Hari Jantung Sedunia, dr Ario menjelaskan sudah saatnya kita menyayangi, menjaga kesehatan jantung sendiri dan mereka yang Anda sayangi. Orang tua harus mengenali gejala PJB pada anaknya.

Misalnya pasien datang membiru termasuk mulut atau lidah. Kadang-kadang biru sekali sampai kejang-kejang. Bisa demam faktor pencetusnya, kepanasan, kurang minum. Kemudian anak dengan penyakit jantung bawaan biasanya mudah capek atau lelah lalu disertai dengan sesak. Kemudian batuk-batuk saat berbaring. Sesak dan batuk bisa menjadi gejala awal terjadi gagal jantung.

Mereka juga sulit tinggi dan berkembang. Tubuhnya tetap pendek. Jika gejala ini ditemukan, maka orang tua harus langsung membawa buah hatinya ke dokter.

Heart World Day atau Hari Jantung Sedunia setiap tahunnya diseluruh dunia diperingati pada 29 September, tahun ini dengan tema ‘My Heart, Your Heart’ atau ‘Jantungku, Jantungmu’. Dunia mengajak setiap individu untuk hidup lebih sehat dengan berjanji untuk menyayangi jantungnya. Hari Jantung Sedunia juga merupakan platform terbesar untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

Mengajak berjanji untuk hidup lebih sehat, kampanye mengajak setiap insan untuk berjanji pada diri sendiri untuk lebih aktif berolahraga, say no to smoking, dan makan makanan yang lebih sehat. Semua itu beberapa janji yang dapat dicatat sebagai resolusi pribadi sehingga pada akhirnya meningkatkan angka tingkat kehidupan masyarakat yang lebih sehat.

(ika/JPC)

Jangan Keliru, Virus HIV/AIDS Tak Akan Menular Karena Kontak Fisik

JawaPos.com – Penyakit HIV/AIDS masih menjadi momok di tengah masyarakat. Kurangnya pemahaman masyarakat akan penularan virus /AIDS sering kali merugikan penderita. Padahal, berada di dekat Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak akan menularkan virus.

Hal ini ditegaskan Prof. David H. Muljono selaku Deputi Direktur dan Peneliti dari Lembaga Eijkman dan Komite Ahli Hepatitis Nasional. Prof. David mengungkapkan kurangnya pengetahuan masyarakat akan penularan HIV/AIDS memang sering kali mendiskriminasi penderita. Mereka kadang takut tertular jika bergaul dengan ODHA.

“Sebetulnya kontak fisik, misal bersalaman, duduk berdekatan, atau intensitas bertemu yang cukup sering tidak menyebabkan suatu virus HIV itu menular,” ujar Prof. David H. Muljono ketika ditemui pada acara seminar kesehatan di Kantor Walikota Jakarta Timur, Kamis (27/9).

Hal senada pun diungkapkan Prof. Dr. Zubairi Djoerban yang menegaskan kalau dengan bersalaman denagn ODHA tidak akan menularkan virus HIV/AIDS. Begitupula ketika ia bersin, menggunakan handuk bersama, sabun, batuk, dan pilek. Bahkan gigitan nyamuk demam berdarah tidak bisa menularkannya.

“HIV/AIDS hanya dapat menular melalui hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, atau ibu pengidap AIDS kepada anak yang dikandungnya,” ujar Prof. Dr. Zubairi Djoerban dalam kesempatan yang sama.

Sehingga, sebagai langkah pencegahan HIV AIDS, masyarakat dianjurkan untuk memeriksakan kesehatan. Bahkan, bagi mereka yang berisiko tertular tak ada salahnya melakukan konseling dengan layanan pencegahan.

Seperti diketahui,  HIV adalah sejenis virus yang menyerang atau menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Kondisi pasien akan semakin memburuk bahkan meninggal dalam rentan waktu 2 hingga 7 tahun.

(Inr/JPC)

Mengenal 2 Jenis Obat Pengencer Darah yang Harus Diminum Pasien Stroke

JawaPos.com – Untuk mencegah serangan stroke berulang, dokter biasanya memberikan obat pengencer darah. Obat pengencer darah diberikan pada pasien stroke dengan penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol serta gangguan irama jantung.

“Kerusakan pembuluh darahnya harus dijaga dengan obat pengencer darah. Jadi obat pengencer darah tetap harus diminun. Tujuannya jangan sampai ada kerusakan pembuluh darah berlanjut,” tegas Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) dalam diskusi paparan hasil studi XANAP terkait pasien stroke dan gangguan irama jantung baru-baru ini.

Menurur dr. Kurniawan obat pengencer darah terbagi dua yakni obat antikoagulan dan antiplatelet. Antiplatelet diberikan pada pasien stroke yang bukan dengan gangguan irama jantung, misalnya ada hipertensi atau diabetes dan kolesterol. Sedangkan antikoagulan diberikan pada pasien stroke dengan gangguan irama jantung.

“Antiplatelet punya potensi merusak lambung, asam sifatnya. Tapi sekarang ada teknologi yang melapisi zat agar tak merusak lambung. Atau cara minumnya, diminum setelah makan,” papar dr. Kurniawan.

Namun begitu pasien disertai gangguan irama jantung, sebaiknya diberikan antikoagulan. Sebab jika diberikan antiplatelet tak akan efektif.

“Seperti obat Clopidogrel itu antiplatelet. Pada pasien bukan gangguan irama jantung biasanya diberikan. Tetapi pada pasien dengan gangguan irama jantung, kalau dikasih Clopidogrel tak tepat. Terus terang dokter di Asia enggan berikan antikoagulan pada pasien tetapi dikasihnya antiplatelet karena perdarahan lebih ringan. Sayangnya tak efektif atau tak tepat,” papar dr. Kurniawan.

Dia menegaskan obat pengencer darah baik antiplatelet dan antikoagulan direkomendasikan agar diminum pasien seumur hidup. Begitu pula dengan obat jantung dan darah tinggi. Sedangkan obat kolesterol, ketika kolesterol sudah turun maka tak usah diminum lagi.

Amankah jika minum obat pengencer darah terus menerus?

Menurutnya, pengencer darah berguna untuk mencegah kerusakan pembuluh darah lanjutan. Jika kaitannya bisa merusak ginjal, kata dia, kerusakan ginjal itu disebabkan kerusakan pembuluh darah ginjal.

“Jadi kalau enggak berikan obat pengencer darah untuk melindungi pembuluh darah, bisa jadi nanti pembuluh darah ginjalnya juga rusak. Maka pengencer darah sebaiknya diminum seumur hidup,” ujarnya.

(ika/JPC)

Pulihkan Fungsi Tubuh, Berapa Lama Pasien Stroke Wajib Fisioterapi?

JawaPos.com – Pasien stroke setelah serangan harus mengikuti serangkaian terapi yaitu fisioterapi. Tujuannya untuk memperbaiki bagian tubuh yang lemah atau tidak berfungsi akibat rusaknya pembuluh darah. Dengan fisioterapi yang rutin dan rajin, masih ada harapan bagi pasien stroke untuk bisa pulih beraktivitas secara mandiri.

Maka dalam tahap rehabilitasi, pasien stroke harus mengikuti fisioterapi. Paling bagus fisioterapi dilaksanakan saat 6 bulan pertama. Jika terbukti stroke dan mengalami kelemahan atau kelumpuhan pada sisi tubuh, maka harus rajin fisioterapi.

“Fisioterapi paling ideal waktunya adalah 6 bulan pertama setelah terkena serangan stroke,” tegas Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) dalam diskusi paparan hasil studi XANAP terkait pasien stroke dan gangguan irama jantung baru-baru ini.

Lalu fisioterapi masih bisa dilanjutkan hingga 1 tahun. Satu tahun pertama melakukan fisioterapi pada pasien, masih ada peluang untuk perbaikan.

“Kalau sampai 1 tahun masih ada peluang perbaikan, makanya harus rajin fisioterapi,” jelas dr. Kurniawan.

Menurutnya, biasanya jika sudah lewat dari 1 tahun dan ada kelemahan atau kecacatan tetapi sudah fisioterapi tak ada perubahan, maka sudah permanen. Sehingga sekalipun mengikuti fisioterapi akan sulit diperbaiki.

“Kalau sudah lebih dari setahun agak sulit. Tapi kalau masih 6 bulan pertama biasanya bisa. Masih masa emas golden period,” ungkap dr. Kurniawan.

Menurutnya setelah satu tahun, pasien boleh-boleh saja jika ingin melanjutkan fisioterapi. Namun peluang penyembuhannya jauh lebih lambat atau kecil.

Kalau sudah 1 tahun masih ada kemungkinan recovery, tapi lebih kecil dibanding 1 tahun pertama. Tapi boleh-boleh saja fisioterapi dilanjutkan,” tegasnya.

(ika/JPC)

Dokter: Jangan Pernah Bilang Stroke Itu Ringan!

JawaPos.com – Masyarakat tak semuanya mengenal apa itu penyakit stroke dan bahayanya. Karena tak tahu gejala serangannya, maka pasien sering terlambat dibawa ke rumah sakit sesaat setelah serangan. Ada juga sebagian maayarakat yang menganggap enteng dengan menyebut istilah stroke ringan.

Stroke terbagi dua. Ada yang dikenal dengan istilah stroke sumbatan atau iskemik. Dan juga ada stroke pecah pembuluh darah. Untuk menentukan pasien terkena stroke dan memastikan terkena stroke jenis apa, wajib menggunakan alat yang dinamakan CT Scan atau MRI.

“Begitu ada kejadian stroke saat pasien bicara pelo, mulut miring, tubuh lemas atau lumpuh dan lainnya, jangan bilang ringan atau tidak. Langsung bawa saja ke rumah sakit,” tegas Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) dalam diskusi paparan hasil studi XANAP terkait pasien stroke dan gangguan irama jantung baru-baru ini.

Menurutnya, stroke bisa saja terlihat ringan di awal namun ketika didiamkan, justru bisa lumpuh separuh badan. Akibatnya bisa menyebabkan kecacatan dan kematian.

“Bisa saja awalnya ringan, tapi didiamkan bisa lumpuh separuh badan dan enggak sadar pasiennya. Yang menetapkan ringan apa enggak adalah nanti oleh dokter. Setelah pulang perawatan,” papar dr. Kurniawan.

Menurutnya, jangan pernah menyebut stroke itu ringan di awal serangan. Sebab stroke adalah gawat darurat yang harus cepat ditangani berpacu dengan waktu emas 4,5 jam.

“Di awal jangan bilang stroke itu ringan. Sttoke itu emergency. Kita punya skoringnya namanya score stroke. Mulai dari motorik, sensorik, saraf wajah, saat masuk berapa dan saat pulang berapa. Jika kurang dari 5 itu ringan, 5-14 sedang, lebih dari 14 itu berat,” ujarnya.

Menurut dr. Kurniawan, seseorang pernah terkena stroke berarti pembuluh darahnya sudah rusak. Maka risiko untuk terserang stroke berulang akan lebih besar.

“Dan kejadian berulang lebih tinggi. Apalagi kalau tak mengontrol faktor risiko,” ujarnya.

Maka ketika pasien stroke mempunyai riwayat darah tinggi, jantung, atau diabetes, wajib meminum obat dengan rutin. Jaga juga dengan gaya hidup sehat dan pola makan tepat. Kemudian menjaga pembuluh darah dengan rajin minum obat pengencer darah.

(ika/JPC)

Hati-hati, Kolesterol Tinggi dan Pengentalan Darah Bisa Picu Stroke

JawaPos.com – Gaya hidup dan pola makan tinggi lemak membuat kolesterol naik. Kolesterol terdiri dari berbagai macam lemak jahat dan lemak baik. Apalagi jika dipicu dengan darah yang kental, risiko terserang stroke akan lebih tinggi.

Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) menjelaskan orang Asia lebih banyak terserang stroke di pembuluh darah bagian kepala. Sedangkan orang Eropa di bagian leher.

Orang Asia saat ini pun gaya hidupnya sama dengan orang negara Barat yang gemar makan fast food. Apalagi ditambah dengan lingkungan yang tak sehat seperti polusi udara dan banyaknya transportasi yang lebih instan. Sehingga membuat seseorang malas bergerak.

“Stroke paling banyak di atas usia 60 tahun. Namun kini bergeser ke usia muda. Ada pasien saya 18 tahun kena stroke karena adanya kelainan pembuluh darah di otak. Tapi kalau usia 30-40 kena stroke itu akibat gaya hidup,” jelas dr. Kurniawan dalam diskusi paparan hasil studi XANAP terkait pasien stroke dan gangguan irama jantung baru-baru ini.

Lalu seberapa besar kolesterol dan pengentalan darah menyumbang risiko stroke? 

1. Kolesterol

Jenis-jenis kolesterol terdiri dari lemak jahat LDL (low-density lipoprotein). HDL (high-density lipoprotein) kolesterol baik dan trigleserida.

Kolesterol LDL dianggap sebagai kolesterol jahat karena berkontribusi terhadap plak, tebal, tumpukan lemak yang keras yang dapat menyumbat arteri dan membuat pembuluh darah menjadi kurang fleksibel. Jika bentuk gumpalan dan blok arteri menyempit, maka dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke.

Sedangkan HDL membantu menghilangkan kolesterol LDL dari arteri. HDL bertugas membawa kolesterol LDL dari arteri untuk kembali ke hati, di mana kolesterol akhirnya dipecah dan dihilangkan dari tubuh.

Lalu trigliserida merupakan salah satu jenis lemak dalam darah yang dibutuhkan tubuh untuk diubah menjadi energi. Kadar trigliserida yang tinggi akan menaikkan risiko serangan jantung dan stroke biasanya terjadi pada orang dengan obesitas.

“Kolestrerol memang faktor risiko. Jika kolesterol saja, kami belum punya datanya berapa persen. Tapi biasanya disertai hipertensi atau diabetes. Angkanya 50-60 persen. Dibanding pasien kolesterol dengan gangguan irama jantung hanya 20 persen. Atau disertai hipertensi ada FA atau diabetes,” kata dr. Kurniawan.

2. Pengentalan Darah

Pengentalan darah juga faktor risiko stroke. Darah yang kental disebabkan gangguan sel-sel pada darah lebih tinggi. Itu karena pada pasien gangguan darah terjadi faktor pembekuan darah lebih dominan.

“Memang ada bawaan gangguan darah. Atau pada orang dengan penyakit auto imun dan kanker, biasanya darahnya lebih kental. Jadi kalau bicara kekentalan darah tergantung penyakitnya dulu,” katanya.

Menurutnya, seseorang yang terlalu lelah tidak akan menyebabkan darah menjadi kental. Namun memang ada kaitannya jika seseorang mengalami dehidrasi darahnya menjadi kental.

“Ada orang dehidrasi, kurang minum darahnya kental. Memang dari hasil pemeriksaan darah, darahnya kental. Tapi tak berhubungan langsung dengan stroke. Kekentalan darah ini bicara soal gangguan pembuluh darahnya yang terganggu. Bukan kadar eritrosit atau Hemoglobin,” papar dr. Kurniawan.

(ika/JPC)

Miris, Hanya 10 Persen Pasien Stroke yang Langsung Dibawa ke RS

JawaPos.com – Penanganan pasien stroke harus berpacu dengan waktu. Golden period atau waktu emasnya adalah hanya 4,5 jam setelah serangan. Sayangnya, banyak pasien terkena stroke mengalami kecacatan dan meninggal dunia karena terlambat dibawa ke rumah sakit.

Pasien stroke bisa pulih dan tingkat kesembuhannya bisa maksimal jika penagananannya juga cepat. Sayangnya, keluarga tidak memahami gejala stroke dan terlambat membawa pasien ke rumah sakit.

“Kalau sembuh total tergantung jangka waktunya, apakah langsung dibawa ke RS atau tidak. Data di saya, pasien stroke yang waktunya datang saat golden period hanya 10 persen,” kata Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) dalam paparan diskusi hasil penelitian XANAP seputar pasien stroke dan gangguan irama jantung baru-baru ini.

Data dr. Kurniawan, ada 90 persen pasien stroke dibawa terlambat. Rata-rata ada yang sudah 1 hari sampai 5 hari setelah serangan baru dibawa ke rumah sakit.

“Datang dulu ke orang pintar baru datang ke rumah sakit. Jadi terlambat,” tegas dr. Kurniawan.

Stroke sering disebut sebagai pembunuh tiba-tiba atau silent killer. Karena tiba-tiba, maka serangannya datang tanpa permisi dan gejala yang tak disadari. Seseorang semula sehat bugar ketika terserang stroke bisa lumpuh seketika bahkan hingga tak sadarkan diri.

Ada akronim yang mendorong seseorang mengenali gejala stroke. Namanya FAST. Adalah Face, Arms, Speech, dan Time. Saat keluarga terserang stroke, lihatlah wajahnya simetris atau tidak, kemudian lengan dan tungkainya yang tiba-tiba lumpuh, kemudian cara bicaranya yang pelo, dan waktu yang harus segera cepat dilarikan ke rumah sakit.

“Ada mitos menyebutkan katanya kalau ada pasien stroke ditusuk-tusuk jarum. Itu totally wrong. Justru ditusuk-tusuk nanti tensi darah makin tinggi malah pembuluh darah pecah. Bisa infeksi juga kalau jarumnya enggak steril. Maka yang benar langsung dibawa ke rumah sakit,” tegasnya.

(ika/JPC)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Jangan Terapi Alternatif Sembarangan, Ini 4 Pengobatan Stroke

JawaPos.com – Berbagai pengobatan alternatif bagi pasien stroke saat ini kian menjamur. Dari mulai pengobatan menggunakan ramuan tradisional, terapi pijat, terapi kejut listrik, hingga terapi lintah dan lainnya. Tentu jika dikaitkan dengan dunia medis, terapi tersebut tidak direkomendasikan.

Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam memilih pengobatan alternatif. Bukannya sembuh, justru jika salah tahapan, stroke bisa lebih parah atau tidak efektif.

“Terapi itu kan bicara bukti ilmiah, ada bukti klinis atau enggak. Kita bicara dari sisi logika atau tidak. Kita bicara mekanisme penyebab stroke itu enggak ada hubungan sama skali dengan mekanisme stroke. Bisa dibilang terapi itu tak dianjurkan dan tolong bedakan antara testimoni dengan hasil uji klinis,” tukasnya dalam diskusi paparab hasil studi XANAP terkait pasien stroke dan gangguan irama jantung baru-baru ini.

Dia menambahkan jika testimoni dijadikan pedoman, banyak orang mengaku sembuh. Namun perbandingannya kecil yaitu 1 dibanding ribuan orang.

“Orang dikasih air putih yang direndam sama batu berhasil sembuh saat diminum. Itu kan testimoni saja. Mungkin itu hanya kebetukan atau suatu saat serangan stroke bisa terjadi lagi,” tukas dr. Kurniawan.

Dokter yang juga praktik di RS Kramat itu menjelaskan saat ini kedokteran masih menggunakan panduan dari Indonesia dan luar negeri atau internasional untuk mengobati stroke.

Rekanalisasi

Pertama, lakukan rekanalisasi. Buka sumbatan dengan obat yaitu dengan trombolitik atau masuk kateter trombektomi. Waktunya terbatas yaitu hanya 24 jam pertama saat pasien terserang stroke.

Pencegahan

Pencegahan atau jangan berulang. Jika pasien stroke punya hipertensi, diabetes, atau gangguan irama jantung, maka harus dicegah dengan rutin minum obat.

Rehabilitasi

Pasien stroke harus mengikuti fisioterapi. Paling bagus fisioterapi dilaksanakan saat 6 bulan pertama. Jika terbukti stroke dan mengalami kelemahan atau kelumpuhan pada sisi tubuh, maka harus rajin fisioterapi.

Perubahan Gaya Hidup

Pola makan, pola tidur, dan olahraga harus dilakukan untuk mencegah stroke berulang atau meningkatkan kualitas hidup pasien stroke.

(ika/JPC)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Haruskah Pasien Stroke Minum Obat Pengencer Darah Seumur Hidup?

JawaPos.com – Gangguan irama jantung atau Fibrilasi Atrium (FA) bisa memicu terjadinya stroke. Maka salah satu pengobatannya adalah dengan terapi obat penggunaan anti koagulan oral antagonis non vitamin K (NOAC) Rivaroxaban yaitu pengencer darah.

FA menyebabkan pembekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dapat menyebabkan stroke. Kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering dijumpai pada kasus stroke dengan FA. Di Indonesia, 37 persen pasien FA dengan usia kurang dari 75 tahun, stroke iskemik merupakan gejala pertama yang didapat.

Terkait pentingnya hasil studi XANAP bagi pasien dengan gangguan irama jantung di Indonesia, Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) menjelaskan dalam penelitian tingkat perdarahan mayor pasien yang diobati dengan Rivaroxaban rendah yaitu 1,5 persen per tahun. Secara khusus, tingkat perdarahan gastrointestinal (GI) dan perdarahan intrakranial (otak) yang fatal relatif rendah yaitu masing-masing 0,5 persen dan 0,7 persen per tahun.

“Tingkat stroke juga rendah pada 1,7 persen per tahun. Hal ini menegaskan kembali keefektifan Rivaroxaban dalam mencegah stroke terkait gangguan irama jantung,” katanya dalam diskusi di Jakarta baru-baru ini.

Lebih dari 96 persen pasien yang diobati dengan Rivaroxaban dalam penelitian ini tidak mengalami perdarahan mayor, stroke / emboli sistemik (SE), atau kematian karena penyebab apapun. Penelitian ini melibatkan pasien lanjut usia dengan berbagai tingkat risiko stroke. Serta berbagai penyakit penyerta medis yang signifikan termasuk gagal jantung, hipertensi, diabetes melitus, stroke atau serangan iskemik transien dan infark miokar.

Obat-obatan antikoagulan adalah terapi kuat yang digunakan untuk mencegah atau mengobati penyakit serius dan kondisi yang berpotensi mengancam nyawa. Sebelum memulai terapi dengan obat-obatan antikoagulan, dokter harus tepat dalam menilai manfaat dan risiko untuk masing-masing kondisi pasien.

“Soal aturan pakai berapa lama obat pengencer harus diminum memang akan jangka panjang. Dalam berbagai studi yaitu 2 tahun. Tetapi kami di dunia medis biasanya merekomendasikan harus diminum seumur hidup apalagi pada pasien dengan FA. Sebab FA ada risiko gangguan pembuluh darah ke otaknya seumur hidup,” papar dr. Kurniawan.

Dia juga kembali mengingatkan masyarakat tentang pentingnya Golden Perikd penyakit stroke. Masyarakat harus segera membawa seseorang dengan gejala serangan stroke ke rumah sakit. Sebab tak boleh lebih dari 4,5 jam guna menghindari kecacatan dan kematian akibat rusaknya pembuluh darah di otak yang lebih luas.

“Jika ada orang kena serangan senyum mencong, gangguan bicara, kaki atau tangan lemas sebelah, bawa langsung ke RS. Golden period stroke sangat sempit lebih sempit dari serangan jantung. Jangan sampai orang kena cacat permanen,” tukasnya.

(ika/JPC)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.